0

Mengapa Ekonomi Syariah Melarang Adanya Riba?

riba

Sumber: edubuku.com

Blog Masjidia | Mengapa di dalam konsep ekonomi Islam (syariah) melarang atau mengharamkan adanya riba? sebelum kita membahas lebih jauh kita harus mengerti apa arti dari “riba” itu sendiri.

Menurut Wikipedia, Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam.

Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.

Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

Riba Dalam Pandangan Agama

Ternyata maslah riba bukan saja menjadi persoalan serius bagi umat Islam saja, namun lebih jauh lagi ternyata riba juga menjadi persoalan serius oleh berbagai agama lain.

Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.

Riba di Dalam Pandangan Agama Islam

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 275 disebutkan bahwa Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Hal ini jelas bahwa mendapatkan keuntungan atau memungut riba dari pinjaman adalah haram! Hal inilah yang mendorong kebangkitan ekonomi Islam dengan hadirnya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi seorang nasabah diambil dari sistem bagi hasil bukan dari “bunga” yang terdapat pada bank-bank konvensional, karena menurut berbagai pendapat termasuk Majelis Ulama Isndonesia (MUI) bunga bank jelas termasuk riba.

Lalu bagaimana suatu akad tersebut bisa dikatakan riba? hal yang sangat mencolok yang bisa ketahui adalah bahwa bunga bank itu riba ialah telah ditetapkannya akad diawal. Jadi ketika seorang nasabah telah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti, karena tingkat suku bunga telah ditentukan. Dan dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya.

Yaitu jika akad telah ditetapkan diawal dan prosentase penabung telah diketahui, maka yang akan menanggung untuk menutupi bunga tersebut adalah pengusaha atau seseorang yang meminjam modal dan apapun yang akan terjadi, kerugian akan ditanggung oleh si peminjam.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan konsep bagi hasil, dimana hanya memberikan nisbah bagi deposannya, maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. contoh nisbahnya adalah 60%:40%, maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.

Jenis-Jenis Riba

Bahwa secara garis besar istilah riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba piutang dan riba jual beli. Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.

  • Riba Qardh

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).

  • Riba Jahiliyyah

Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

  • Riba Fadhl

Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.

  • Riba Nasi’ah

Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

Perbedaan Investasi Dengan Membungakan Uang

Ada dua perbedaan mendasar antara investasi dengan mem-bungakan uang, yaitu:

  1. Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak pasti dan tidak tetap.
  2. Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap.

Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang.

Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di bank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu ter-gantung kepada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekadar menyalurkan uang. Bank Islam harus terus berupaya meningkatkan kembalian atau return of investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan bagi pemilik dana.

Perbedaan Hutang Uang Dengan Barang

Terdapat dua jenis hutang yang berbeda satu dengan lainnya, yaitu hutang yang terjadi karena pinjam meminjam uang. Dan hutang yang terjadi karena pengadaan barang.

Suatu hutang yang terjadi karena pinjam meminjam uang tidak boleh ada penambahan dari pokok saat pengembalian, kecuali terdapat alasan yang pasti dan jelas seperti biaya materai, biaya notaris, dan studi kelayakan. Sedangkan tambahan lainnya yang tidak pasti seperti karena terjadinya inflasi maupun deflasi jelas tidak diperbolehkan.

Sedangkan piutang yang terjadi karena pengadaan barang harus jelas dalam satu kesatuan yang utuh yang bisa disebut dengan harga jual. Dan harga barang itu sendiri terdiri dari harga pokok plus keuntungan yang telah disepakati. Sekali harga jual barang telah disepakati maka selanjutnya tidak akan ada penambahan nilai harga barang, karena akan masuk dalam kategori riba fadl.

Dan dalam prakteknya yang terjadi di perbankan syariah ialah transaksi yang muncul adalah kewajiban dalam bentuk hutang pengadaan barang, bukan hutang uang.

Perbedaan Bunga Dengan Bagi Hasil

Sekali lagi, Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yang sangat nyata. Perbedaan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Bunga : Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung.
    Bagi Hasil : Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.
  • Bunga : Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan.
    Bagi Hasil : Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.
  • Bunga : Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
    Bagi hasil : tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.
  • Bunga : Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming”.
    Bagi hasil : Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
  • Bunga : Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh beberapa kalangan.
    Bagi hasil : Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

Itulah penjelasan terkait riba, dan praktek riba jelas-jelas sangat tidak adil dan merugikan si peminjam uang. Dilain pihak si pemilik dana sangat diuntungkan dan tidak mendapatkan resiko yang berarti. Itulah mengapa Islam mengharamkan riba karena terdapat unsur ketidak adilan. Sedangkan ekonomi syariah terwujud guna menciptakan rasa keadilan sesama umat.

*Disadur dari Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Riba

 

 

Bagikan Ke Teman Anda:

Masjidia

E-Commerce muslim berbasis unit bisnis masjid, Untuk kemakmuran umat. Sebagai solusi, Masjidia merupakan Platform perdagangan elektronik yang fokus dalam pemberdayakan warga sekitaran masjid dengan menggunakan mobile app.